TERAKHIR & TERINDAH
Pagi ini aku dijemput
Willy berangkat ke sekolah. Seperti biasa, aku selalu membawakannya sarapan.
Tiba disekolah Willy langsung mengantarku ke kelas. Aku dan dia memang beda
kelas tapi kita selalu bareng.
Bel istirahat berbunyi,
Willy sudah menunggu ku di taman tempat biasa kita bertemu.
Akhir – akhir ini Willy
sering mengajakku jalan-jalan, entah itu ke mall maupun sungai yang indah. Kali
ini aku pulang tidak diantar oleh Willy. Karena dia harus menjemput Mamanya.
Aku, Visha, Citra, dan Tessa pulang bersama. Mereka sudah terbiasa main
kerumah. Bahkan Mamaku sendiri sudah menganggap mereka seperti anak sendiri.
Jadi mereka juga menganggap rumahku seperti rumah sendiri. Mamaku pulang sambil
membawa makanan dan menawarkannya kepada Tessa.
Mendengar kata makanan
Tessa langsung menyrobot diantara teman-temannya. Dia memang terkenal paling
hobi makan diantara kita.
Hari sudah malam mereka
memutuskan untuk pulang.
***
Pagi ini tampak cerah
sekali. Kali ini aku diantar Mama ke sekolah. Willy sudah menunggu di pintu
gerbang.
Hari ini aku ada ulangan
Matematika dan meminta Willy untuk mengajariku karena dia memang jago
Matematika. Aku selalu bersaing dalam hal nilai dan peringkat dengan Willy.
Tiba – tiba si 3 biang kerok datang yang biasa menggangguku dengan Willy. Siapa
lagi kalau bukan Visha, Citra, dan Tessa. Diantara kita berempat Visha yang
paling unggul dalam hal prestasi.
“Teng..Teng..”. Bel masuk
berbunyi. Aku segera mempersiapkan diri untuk ulangan kali ini. Aku nggak mau
kalah dengan kita. Karena kita berempat ada perjanjian yang berisi “Barang
siapa yang bisa mengungguli kepandaian Visha, maka ia akan menraktir di Cafe”.
Akhirnya waktu pulang
sekolah pun datang. Aku dan tentunya sama 3 orang sahabatku memutuskan untuk
sekedar melepas bosan ke mall. Betapa terkejutnya aku ketika bertemu dengan
Willy bersama Mamanya tante Nita. Aku memang belum pernah bertemu dengannya,
tapi kita sudah terbiasa engobrol dalam telepon. Walaupun begitu aku masih
merasa canggung saat bertatap muka langsung. Kami menuju sebuah tempat makan.
Hingga tidak sadar bahwa kami sedang menceritakan kejelekan orang lain. Tante
Nita memberitahu semua kelakuan buruk Willy. Willy hanya tersenyum malu
menengarnya. Sesekali aku bertatapan dengan Willy, yang seolah mengisyaratkan
sesuatu yang tidak kuketahui.
Terlelap oleh perbincangan
seru, kami tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami
bergegas untuk pulang. Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamar dan
membuka buku diary ku yang sudah lama tidak dihinggapi goresan – goresan tinta
tanganku.
Dalam gemerlapnya malam
yang sunyi, terdengar suara bel rumah. Ternyata mamaku sudah pulang. Aku segera
membukakan pintu dan menyambutnya. Tanpa ku sadari aku membawa buku diary ku
yang masih terbuka. Mama tidak sengaja melihat dan mamaku tertawa melihat
isinya. Aku hanya bisa ikut tertawa, karena jujur aku masih canggung sama tante
Nita. Mamaku lalu menasihatiku untuk bersikap baik dengan tante Nita.
Handponeku berdering
memecahkan perbincanganku sama mama. Ternyata telepone dari Willy. Mama
mengisyaratkan agar aku segera mengangkat teleponenya dan berpamitan untuk
pergi kekamarnya. Willy bilang dia tidak bisa menjemputnya besok pagi. Aku
segera menelepone ketiga sahabatnya untuk berangkat bareng.
***
Jam berdering begitu keras
membangunkanku dari mimpi buruk. Ternyata waktu menunjukkan pukul 06.45 WIB itu
tandanya aku akan telat kesekolah. Aku segera bergegas siap – siap kesekolah.
Ternyata 3 sahabatku sudah lama menungguku di depan rumah.
Sesampainya di sekolah
pintu gerbang sudah tertutup. Kita dihukum lari keliling lapangan basket
sebanyak 10 kali karena terlambat. Baru kali ini kita terlambat datang. Kita
mersa kapok dan tidak akan mengulanginya lagi. Saat kita masih merasa kehausan
dan kelelahan Willy datang membawakan minum dan handuk. Visha bersuit – suit
kemudian diikuti Tessa dan Citra menyadari kedatangannya.
Kita segera menuju kelas
karena sudah menyelesaikan hukuman yang diberikan. Karena kecapekkan kita jadi
tidak konsen belajar. Mendengar bel istirahat berbunyi kita langsung merasa
gembira karena kita bisa istirahat. Kakiku terasa sakit sekali karena tidak
terbiasa lari terlalu lama.
***
Dirumah mama sudah
menungguku untuk makan siang bersama. Mama sengaja memasak makanan kesukaanku.
Hari ini aku tidak ada
jadwal keluar dengan Willy ataupun ketiga sahabatku. Malam ini langit dihiasi
beribu bintang terang. Aku membuka buku untuk mempelajari materi hari ini
karena tadi aku tidak memperhatikan. Merasa kesulitan dengan soal, aku segera
meminta bantuan kepada Visha. Aku memintanya untuk datang kerumah dan ia
menyanggupinya. Selang waktu 30 menit Visha sampai dirumahku karena memang
jarak antara rumahku dan rumahnya cukup dekat. Setah selesai mengerjakan soal
kita terlibat sebuah perdebatan sepele tentang ide mebuat film untuk penilaian
besok. Tapi masalah tersebut segera terselesaikan.
Berlalu dengan perdebatan,
kita mulai membicarakan cowok idaman Visha yaitu Eza. Dia mulai ikut berperan
dalam hal percintaan. Dengan sedikit malu dia mulai mengakui perasaannya
terhadap Eza. Tidak terasa malam semakin larut Visha memutuskan untuk menginap
dirumahku. Ia juga meminta izin ke orang tuanya. Yang kebetulan orang tua kita
juga sudah bersahabat sejak kecil sehingga ia diperbolehkan.
Sesaat sebelum tidur aku
menceritakan mimpiku tadi malam yang berisi bahwa aku akan putus dengan Willy
tepat pada hari ulang tahunku. Aku merasa ketakutan apabila hal itu akan benar
– benar tejadi. Visha mencoba menenangkanku.
“Tenanglah ness, itu semua
hanya mimpi buruk. Mimpi adalah bunga tidur, mungkin karena kemari kamu masih
kecapekkan”, kata Visha.
Aku hanya mengangguk
seolah berharap ucapan Visha memang benar.
***
Hari ini adalah hari
minggu, aku diajak mama untuk menjenguk nenekku di rumah sakit. Sepanjang
perjalanan aku hanya terpaku akan mimpiku itu. Tapi aku sangat percaya sama
Willy, dan nggak mungkin juga dia akan seperti itu. Mama mengejutkanku dengan
memegang pipiku. Ternyata kita sudah sampai di rumah sakit. Aku merasa sangat
sedih karena ternyata nenekku memiliki penyakit kronis dan mama merahasiakannya
dariku.
Aku mencoba menghibur diri
dengan mengajak jalan Willy. Dia membawaku ke sebuah tempat yang indah di tepi
sungai. Dia menyuruhku untuk menjerit sekeras – kerasnya untuk melepas semua
beban. Kemudian aku mulai bercerita tentang mimpiku itu. Willy meyakinkanku dan
menenangkanku dengan memelukku dan mengusap kepalaku. Aku selalu merasa nyaman
saat berada dipelukannya.
Hingga aku sudah merasa
lebih baik, Willy mengajakku untuk pulang. Dia menemaniku sambil mengajariku
tentang soal yang kukira sulit. Lumayan lah..itung-itung guru privat gratis.
Beberpa menit kemudian ketiga sahabatku datang. Kita belajar kelompok, Willy
dan Visha sebagai gurunya sedangkan aku, Tessa, dan Citra sebagai murid. Kita
memang biasa seperti ini untuk meringankan beban pelajaran.
Aku baru sadar bahwa besok
aku ada penelitian terhadap bunga mawar. Aku harus menyiapkan materi untuk
besok. Aku harus membawa peralatannnya sendiri dan ada beberpa yang tidak
kumiliki. Sehingga, aku harus membelinya ke toko. Selesai membeli peralatan aku
langsung pulang dan mulai membuka sebuah buku diary. Goresan demi goresan tinta
kububuhkan di buku ini. Dari mulai hal yang menyedihkan hingga yang
membahagiakan.
Tiba – tiba mama
membangunkanku dari tidur. Ternyata aku ketiduran di atas buku diary ku. Karena
terkejut, tanpa sadar aku mengucap kata “20”. Aku masih terbayang dengan hasil
belajarku tadi. Aku melanjutkan tidurku di tempat yang seharusnya.
***
Setetes embun pagi
mengawali hariku yang sejuk ini. Aku berdiri melamun memandang suasana luar
dari jendela kamarku. Kupu – kupu menghampiriku dengan senyuman. Seolah memberi
keceriaan pada diriku.
Tersadar dari lamunan, aku
baru ingat kalau hari ini ada les pagi dan gurunya sangat killer. Sesampainya
di sekolah aku mengehembuskan nafas dan lega karena guru killer itu belum juga
datang. Tidak biasanya guru itu sampai terlambat selama ini justru dia akan
datang 10 menit sebelum les dimulai. Tiba – tiba ada pengumuman bahwa guru
killer itu mengalami kecelakaan. Kita semua sedih walaupun sangat membencinya,
tapi rasa kehilangan muncul ketika guru itu mengalami musibah. Teman – teman
sekelasku sepakat untuk menjenguknya sepulang sekolah.
Teng..Teng..Teng!!!bel
pulang sekolah berbunyi. Kita segera menuju Rumah Sakit tempat guru killer itu
di rawat. Semuanya meneteskan air mata melihat Pak Eko si guru killer itu hanya
bisa terbaring di tempat. Semua memandangiku dengan aneh, mungkin karena aku
menangis sangat keras hingga tersedak-sedak. Aku memutuskan untuk meninggalkan
tempat itu. Ternyata kayak gini yang namanya kehilangan. Ya, walaupun Pak Eko tidak meninggalkan kita
untuk selamanya tetapi 2 bulan kedepan tidak ada yang memarahiku lagi pada saat
les pagi.
Setelah puas menjenguk,
kita pulang ke rumah masing-masing tetapi tidak dengan ketiga sahabatku. Mereka
ikut kerumahku sekedar untuk ikut makan siang dengan mamaku. Sebelumnya mereka
telah diundang mama untuk makan bareng.
Matahari mulai
menenggelamkan dirinya. Begitu pun denganku, mulai meneggelamkan diri di kasur.
Aku tertidur pulas hingga melewatkan makan malam. Kata mama, dia gak tega
membangunkanku dari tidur.
Telfonku berdering
menandakan ada BBM masuk. Setelah kulihat jam, ternyata ini jam 00.01. semua
berisi ucapan ulang tahun. Aku baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang
tahunku. Mama dan Papa juga kekamarku untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Dan aku berharap ucapan pertama datang dari Willy. Ternyata tidak, ucapan
pertama dari Citra. Aku menunggu ucapan dari Willy sampai jam 2 pagi. Hingga
aku tertidur, bangun tidur aku langsung membuka BBM. Tetap saja dia belum
mengirimkan ucapan untukku. Aku membayangkan mungkin dia akan memberi kejutan
di sekolah nanti. Hingga waktu pulang sekolah tiba Willy masih bersikap seperti
biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Aku jadi teringat sama mimpiku waktu itu,
aku akan putus sama Willy. Rasa takut kehilanganku muncul lagi melebihi ketika
kehilangan Pak Eko.
Willy juga mengantarku
kerumah dengan sikap biasa. Hingga pukul 9 malam tidak ada ucapan dari dia. Aku
pun tidur dengan rasa kecewa. Pukul 24.55 seseorang datang dan memberi kejutan
ulang tahun. Tepat jam 24.59 Willy mengucapkan “Selamat ulang tahun sayang”
sambil membawakan kue dan kado langsung dihadapanku. Dia juga memelukku.
Ternyata dia masih ingat tanggal kelahiranku. Sebelumnya dia sudah bersekongkol
sama mama dan papa tentang semua ini. Sungguh hari ini adalah hari yang nggak
bakal aku lupain. Aku bru sadar bahwa yang terindah tidak selalu datang paling
awal, bahkan mungkin akan datang yang terakhir.
Aku merasa sangat bahagia hari ini....