Kamis, 11 Agustus 2016

Cerpen romantis

TERAKHIR & TERINDAH
Pagi ini aku dijemput Willy berangkat ke sekolah. Seperti biasa, aku selalu membawakannya sarapan. Tiba disekolah Willy langsung mengantarku ke kelas. Aku dan dia memang beda kelas tapi kita selalu bareng.
Bel istirahat berbunyi, Willy sudah menunggu ku di taman tempat biasa kita bertemu.
Akhir – akhir ini Willy sering mengajakku jalan-jalan, entah itu ke mall maupun sungai yang indah. Kali ini aku pulang tidak diantar oleh Willy. Karena dia harus menjemput Mamanya. Aku, Visha, Citra, dan Tessa pulang bersama. Mereka sudah terbiasa main kerumah. Bahkan Mamaku sendiri sudah menganggap mereka seperti anak sendiri. Jadi mereka juga menganggap rumahku seperti rumah sendiri. Mamaku pulang sambil membawa makanan dan menawarkannya kepada Tessa.
Mendengar kata makanan Tessa langsung menyrobot diantara teman-temannya. Dia memang terkenal paling hobi makan diantara kita.
Hari sudah malam mereka memutuskan untuk pulang.
***
Pagi ini tampak cerah sekali. Kali ini aku diantar Mama ke sekolah. Willy sudah menunggu di pintu gerbang.
Hari ini aku ada ulangan Matematika dan meminta Willy untuk mengajariku karena dia memang jago Matematika. Aku selalu bersaing dalam hal nilai dan peringkat dengan Willy. Tiba – tiba si 3 biang kerok datang yang biasa menggangguku dengan Willy. Siapa lagi kalau bukan Visha, Citra, dan Tessa. Diantara kita berempat Visha yang paling unggul dalam hal prestasi.
“Teng..Teng..”. Bel masuk berbunyi. Aku segera mempersiapkan diri untuk ulangan kali ini. Aku nggak mau kalah dengan kita. Karena kita berempat ada perjanjian yang berisi “Barang siapa yang bisa mengungguli kepandaian Visha, maka ia akan menraktir di Cafe”.
Akhirnya waktu pulang sekolah pun datang. Aku dan tentunya sama 3 orang sahabatku memutuskan untuk sekedar melepas bosan ke mall. Betapa terkejutnya aku ketika bertemu dengan Willy bersama Mamanya tante Nita. Aku memang belum pernah bertemu dengannya, tapi kita sudah terbiasa engobrol dalam telepon. Walaupun begitu aku masih merasa canggung saat bertatap muka langsung. Kami menuju sebuah tempat makan. Hingga tidak sadar bahwa kami sedang menceritakan kejelekan orang lain. Tante Nita memberitahu semua kelakuan buruk Willy. Willy hanya tersenyum malu menengarnya. Sesekali aku bertatapan dengan Willy, yang seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak kuketahui.
Terlelap oleh perbincangan seru, kami tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami bergegas untuk pulang. Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamar dan membuka buku diary ku yang sudah lama tidak dihinggapi goresan – goresan tinta tanganku.
Dalam gemerlapnya malam yang sunyi, terdengar suara bel rumah. Ternyata mamaku sudah pulang. Aku segera membukakan pintu dan menyambutnya. Tanpa ku sadari aku membawa buku diary ku yang masih terbuka. Mama tidak sengaja melihat dan mamaku tertawa melihat isinya. Aku hanya bisa ikut tertawa, karena jujur aku masih canggung sama tante Nita. Mamaku lalu menasihatiku untuk bersikap baik dengan tante Nita.
Handponeku berdering memecahkan perbincanganku sama mama. Ternyata telepone dari Willy. Mama mengisyaratkan agar aku segera mengangkat teleponenya dan berpamitan untuk pergi kekamarnya. Willy bilang dia tidak bisa menjemputnya besok pagi. Aku segera menelepone ketiga sahabatnya untuk berangkat bareng.
***
Jam berdering begitu keras membangunkanku dari mimpi buruk. Ternyata waktu menunjukkan pukul 06.45 WIB itu tandanya aku akan telat kesekolah. Aku segera bergegas siap – siap kesekolah. Ternyata 3 sahabatku sudah lama menungguku di depan rumah.
Sesampainya di sekolah pintu gerbang sudah tertutup. Kita dihukum lari keliling lapangan basket sebanyak 10 kali karena terlambat. Baru kali ini kita terlambat datang. Kita mersa kapok dan tidak akan mengulanginya lagi. Saat kita masih merasa kehausan dan kelelahan Willy datang membawakan minum dan handuk. Visha bersuit – suit kemudian diikuti Tessa dan Citra menyadari kedatangannya.
Kita segera menuju kelas karena sudah menyelesaikan hukuman yang diberikan. Karena kecapekkan kita jadi tidak konsen belajar. Mendengar bel istirahat berbunyi kita langsung merasa gembira karena kita bisa istirahat. Kakiku terasa sakit sekali karena tidak terbiasa lari terlalu lama.
***
Dirumah mama sudah menungguku untuk makan siang bersama. Mama sengaja memasak makanan kesukaanku.
Hari ini aku tidak ada jadwal keluar dengan Willy ataupun ketiga sahabatku. Malam ini langit dihiasi beribu bintang terang. Aku membuka buku untuk mempelajari materi hari ini karena tadi aku tidak memperhatikan. Merasa kesulitan dengan soal, aku segera meminta bantuan kepada Visha. Aku memintanya untuk datang kerumah dan ia menyanggupinya. Selang waktu 30 menit Visha sampai dirumahku karena memang jarak antara rumahku dan rumahnya cukup dekat. Setah selesai mengerjakan soal kita terlibat sebuah perdebatan sepele tentang ide mebuat film untuk penilaian besok. Tapi masalah tersebut segera terselesaikan.
Berlalu dengan perdebatan, kita mulai membicarakan cowok idaman Visha yaitu Eza. Dia mulai ikut berperan dalam hal percintaan. Dengan sedikit malu dia mulai mengakui perasaannya terhadap Eza. Tidak terasa malam semakin larut Visha memutuskan untuk menginap dirumahku. Ia juga meminta izin ke orang tuanya. Yang kebetulan orang tua kita juga sudah bersahabat sejak kecil sehingga ia diperbolehkan.
Sesaat sebelum tidur aku menceritakan mimpiku tadi malam yang berisi bahwa aku akan putus dengan Willy tepat pada hari ulang tahunku. Aku merasa ketakutan apabila hal itu akan benar – benar tejadi. Visha mencoba menenangkanku.
“Tenanglah ness, itu semua hanya mimpi buruk. Mimpi adalah bunga tidur, mungkin karena kemari kamu masih kecapekkan”, kata Visha.
Aku hanya mengangguk seolah berharap ucapan Visha memang benar.
***
Hari ini adalah hari minggu, aku diajak mama untuk menjenguk nenekku di rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku hanya terpaku akan mimpiku itu. Tapi aku sangat percaya sama Willy, dan nggak mungkin juga dia akan seperti itu. Mama mengejutkanku dengan memegang pipiku. Ternyata kita sudah sampai di rumah sakit. Aku merasa sangat sedih karena ternyata nenekku memiliki penyakit kronis dan mama merahasiakannya dariku.
Aku mencoba menghibur diri dengan mengajak jalan Willy. Dia membawaku ke sebuah tempat yang indah di tepi sungai. Dia menyuruhku untuk menjerit sekeras – kerasnya untuk melepas semua beban. Kemudian aku mulai bercerita tentang mimpiku itu. Willy meyakinkanku dan menenangkanku dengan memelukku dan mengusap kepalaku. Aku selalu merasa nyaman saat berada dipelukannya.
Hingga aku sudah merasa lebih baik, Willy mengajakku untuk pulang. Dia menemaniku sambil mengajariku tentang soal yang kukira sulit. Lumayan lah..itung-itung guru privat gratis. Beberpa menit kemudian ketiga sahabatku datang. Kita belajar kelompok, Willy dan Visha sebagai gurunya sedangkan aku, Tessa, dan Citra sebagai murid. Kita memang biasa seperti ini untuk meringankan beban pelajaran.
Aku baru sadar bahwa besok aku ada penelitian terhadap bunga mawar. Aku harus menyiapkan materi untuk besok. Aku harus membawa peralatannnya sendiri dan ada beberpa yang tidak kumiliki. Sehingga, aku harus membelinya ke toko. Selesai membeli peralatan aku langsung pulang dan mulai membuka sebuah buku diary. Goresan demi goresan tinta kububuhkan di buku ini. Dari mulai hal yang menyedihkan hingga yang membahagiakan.
Tiba – tiba mama membangunkanku dari tidur. Ternyata aku ketiduran di atas buku diary ku. Karena terkejut, tanpa sadar aku mengucap kata “20”. Aku masih terbayang dengan hasil belajarku tadi. Aku melanjutkan tidurku di tempat yang seharusnya.
***
Setetes embun pagi mengawali hariku yang sejuk ini. Aku berdiri melamun memandang suasana luar dari jendela kamarku. Kupu – kupu menghampiriku dengan senyuman. Seolah memberi keceriaan pada diriku.
Tersadar dari lamunan, aku baru ingat kalau hari ini ada les pagi dan gurunya sangat killer. Sesampainya di sekolah aku mengehembuskan nafas dan lega karena guru killer itu belum juga datang. Tidak biasanya guru itu sampai terlambat selama ini justru dia akan datang 10 menit sebelum les dimulai. Tiba – tiba ada pengumuman bahwa guru killer itu mengalami kecelakaan. Kita semua sedih walaupun sangat membencinya, tapi rasa kehilangan muncul ketika guru itu mengalami musibah. Teman – teman sekelasku sepakat untuk menjenguknya sepulang sekolah.
Teng..Teng..Teng!!!bel pulang sekolah berbunyi. Kita segera menuju Rumah Sakit tempat guru killer itu di rawat. Semuanya meneteskan air mata melihat Pak Eko si guru killer itu hanya bisa terbaring di tempat. Semua memandangiku dengan aneh, mungkin karena aku menangis sangat keras hingga tersedak-sedak. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ternyata kayak gini yang namanya kehilangan.  Ya, walaupun Pak Eko tidak meninggalkan kita untuk selamanya tetapi 2 bulan kedepan tidak ada yang memarahiku lagi pada saat les pagi.
Setelah puas menjenguk, kita pulang ke rumah masing-masing tetapi tidak dengan ketiga sahabatku. Mereka ikut kerumahku sekedar untuk ikut makan siang dengan mamaku. Sebelumnya mereka telah diundang mama untuk makan bareng.
Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Begitu pun denganku, mulai meneggelamkan diri di kasur. Aku tertidur pulas hingga melewatkan makan malam. Kata mama, dia gak tega membangunkanku dari tidur.
Telfonku berdering menandakan ada BBM masuk. Setelah kulihat jam, ternyata ini jam 00.01. semua berisi ucapan ulang tahun. Aku baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Mama dan Papa juga kekamarku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Dan aku berharap ucapan pertama datang dari Willy. Ternyata tidak, ucapan pertama dari Citra. Aku menunggu ucapan dari Willy sampai jam 2 pagi. Hingga aku tertidur, bangun tidur aku langsung membuka BBM. Tetap saja dia belum mengirimkan ucapan untukku. Aku membayangkan mungkin dia akan memberi kejutan di sekolah nanti. Hingga waktu pulang sekolah tiba Willy masih bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Aku jadi teringat sama mimpiku waktu itu, aku akan putus sama Willy. Rasa takut kehilanganku muncul lagi melebihi ketika kehilangan Pak Eko.
Willy juga mengantarku kerumah dengan sikap biasa. Hingga pukul 9 malam tidak ada ucapan dari dia. Aku pun tidur dengan rasa kecewa. Pukul 24.55 seseorang datang dan memberi kejutan ulang tahun. Tepat jam 24.59 Willy mengucapkan “Selamat ulang tahun sayang” sambil membawakan kue dan kado langsung dihadapanku. Dia juga memelukku. Ternyata dia masih ingat tanggal kelahiranku. Sebelumnya dia sudah bersekongkol sama mama dan papa tentang semua ini. Sungguh hari ini adalah hari yang nggak bakal aku lupain. Aku bru sadar bahwa yang terindah tidak selalu datang paling awal, bahkan mungkin akan datang yang terakhir.
 Aku merasa sangat bahagia hari ini....